Senpai’s Stories – Anne

Sejak SD saya mempunyai ketertarikan dengan budaya Asia Timur. Saya mengoleksi barang barang tradisional dari China dan Jepang. Mulai dari kotak perhiasan sampai bungkus permen. Menurut saya tulisan kanji itu unik dan warna warna pilihan yang khas sangat menarik bagi saya pada saat itu.

Saat SMP, saya berkesempatan exchange dengan murid JJS (Jakarta Japanese School) di Bintaro. Pada saat itu saya berinteraksi dengan anak anak Jepang seumuran saya. Di kelas di JJS saya ingat saya terkagum kagum dengan pelajaran geografi, matematika, dan olah raga mereka. Sama sekali berbeda dengan apa yang saya pelajari di sekolah saya saat itu. Teman teman Jepang saya di JJS juga sangat friendly. Hal itu membuat saya ingin belajar di Jepang.

Kesempatan kuliah di Jepang

Pada saat SMA, sekolah saya (SMA negeri 8, Jakarta) kedatangan representative staff dari Ritsumeikan Asia Pacific University (APU). Mereka meng advertise kan beasiswa yang tersedia untuk belajar di APU. Saya ingat betapa excited nya saya untuk belajar di APU. Membayangkan tinggal di dormitory dengan mahasiswa dari 80 negara di negara yang saya kagumi! Nampaknya seperti mimpi! Persyaratan utama masuk APU (selain nilai raport dan TOEFL score yang baik) adalah essay. Berhubung English Essay writing adalah salah satu passion saya saat itu, dengan semangat saya mendaftar ke APU. Bahagia sekali saya saat mendengar bahwa hasil application saya adalah 100% tuittion fee reduction untuk belajar di APU untuk jenjang S1.

Tidak mudah meyakinkan orangtua bahwa saya akan mampu bertanggung jawab dan hidup mandiri di Jepang berbekal beasiswa. Segala strategi negosiasi saya lancarkan kepada orangtua saya termasuk membuat proposal resmi berisi estimasi pengeluaran dana dan rencana selama 4 tahun ke depan. Saya buat beberapa estimasi dengan scenario berbeda yaitu diantaranya apabila saya kuliah di universitas negri dan swasta di Indonesia.

Setelah negosiasi panjang penuh air mata (haha) akhirnya saya berangkat satu semester kemudian (keberangkatan di postpone karena ada masalah finansial keluarga). Bahagia nya saya saat menginjakkan kaki di Fukuoka international airport. Saat itu musim semi tahun 2004

Fast forward 4 tahun kemudian, saya mengantongi beberapa scholarships tambahan dari hasil prestasi akademis saya. Diantaranya adalah: Honors Scholarship, Suzaki Foundation Scholarship, Oita Prefectural Scholarship. Begitu bangga nya orangtua saya dengan pencapaian saya di APU, adik sayapun didukung untuk belajar di APU. Alhamdulilah dia juga mendapatkan 100% tuittion fee reduction.

Melanjutkan S2 di Jerman

Setelah selesai S1, saya melanjutkan ke program S2 dual degree, joint universities (Japan-Germany) kerjasama APU dan Trier University of Applied Sciences. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, saya mendapatkan beasiswa MEXT (domestic recruitment) untuk mendanai program ini.

Jerman memiliki budaya yang berbeda dengan Jepang. Keduanya memiliki keunikan tersendiri. Kalau di Jepang saya belajar banyak tentang team work dan harmony, di Jerman saya belajar berpikir kritis dan taktis. Benar benar pengalaman hidup yang berharga bagi saya. Saya bersyukur mendapatkan kesempatan belajar di kedua negara hebat ini.

Saat saya hampir selesai S2, saya dihubungi oleh pihak Jepang. Saya ditawarkan apakah berminat untuk melanjutkan S3 di Jepang dengan perpanjangan beasiswa MEXT. Pada awalnya saya ingin bekerja terlebih dahulu untuk mendapatkan pengalaman kerja, akan tetapi salah satu syarat perpanjangan ini adalah tidak boleh ada jeda waktu antara S2 dan S3. Akhirnya setelah menyelesaikan internship di Bosch GmbH. saya melamar ke Waseda Graduate School of Environment and Energy Engineering di Tokyo.

Kembali ke Jepang untuk S3 dan bekerja

Selama S3, saya berkesempatan internship di organisasi ternama seperti United Nations University, Asian Development Bank, dan Institute for Global Environmental Strategies. Dari internship internship tersebut, saya menelurkan beberapa artikel di international journal ternama dan salah satunya mendapatkan penghargaan Hutchison medal dari The institution of chemical engineers (sebagai an important contribution to the literature that will stimulate further debate within the chemical engineering community) .

Setelah S3 yang cukup singkat karena persyaratan sudah terpenuhi (2,5 thn) saya melamar kerja di Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech). Bermula sebagai Assistant Professor pada tahun 2013 disana, saya mengakhiri masa dinas saya sebagai Lecturer pada tahun 2017.

Untuk kamu yang ingin ke Jepang

Melihat kebelakang, perjalanan saya rasanya sangat dipermudah oleh yang maha kuasa. Jujur saya merasa memiliki kemampuan yang biasa biasa saja. Namun saya memiliki mimpi, dedikasi, dan presistensi yang tinggi. Saya juga percaya personality yang baik sangat berperan penting dalam berfungsi di society di Jepang. Banyak sekali anak Indonesia yang saya yakin jauh lebih hebat dari saya dan memiliki potensi yang cemerlang. Bila ada kemauan, disitu ada jalan. Mudah mudahan tulisan saya ini bisa menginspirasi siapapun yang membacanya dan memiliki mimpi belajar dan berkarya di Jepang.


Layanan study Mikata Japan