Senpai`s Stories – Abhi

Sejak duduk di SMP, saya mempunyai keinginan kuat untuk bisa mengayomi pendidikan di luar negeri. Bukan karena saya merasa bahwa mutu institusi pendidikan Indonesia jauh di bawah negara luar, tetapi lebih karena rasa penasaran saya untuk mencicipi kehidupan di negeri orang tanpa tergantung kepada keluarga.

Terlebih lagi, lumayan banyak keluarga besar saya yang pernah merasakan hidup merantau di Amerika Serikat atau Jepang dan mereka sering menyemangati saya agar dapat mengikuti jejak mereka.

Dari semua pilihan, sebenarnya Jepang bukan negara pilihan pertama saya sewaktu menimbang-nimbang lokasi kuliah. Memang banyak komik (manga) dan film kartun (anime) Jepang yang sudah masuk ke Indonesia sejak awal dekade 1990-an dan informasi tentang kehidupan di Jepang mudah didapat, tetapi saya berpikir bahwa berhubung saya akan hidup sendiri, lebih mudah untuk kuliah di negara yang berbahasa Inggris. Faktor finansial juga menjadi pertimbangan utama dan saya merasa lebih banyak informasi mengenai beasiswa untuk kuliah di AS, Singapura atau Australia dibandingan Jepang (untuk saya pribadi, mendapat beasiswa / tuition exemption adalah syarat mutlak bila ingin meneruskan kuliah di luar). Menariknya, justru faktor beasiswa inilah yang membuat saya memilih untuk datang ke negeri sakura setelah lulus SMA.

Saya pertama kali mendengar mengenai beasiswa Monbusho/MEXT dari iklan di koran saat menunggu hasil ujian akhir SMA (maklum saat itu smartphone belum keluar dan Google belum sepopuler sekarang). Hebatnya beasiswa ini adalah selain tiket pp Indonesia – Jepang dan biaya kuliah ditanggung 100%, pemerintah Jepang juga memberi sangu untuk biaya hidup bulanan yang cukup. Alhamdulillah, setelah mengikuti seleksi di Jakarta, saya diterima sebagai kandidat mahasiswa S1. ‘Kandidat’ dalam arti saya masih harus mengikuti seleksi masuk universitas Jepang setelah kursus bahasa di Tokyo. Dengan kata lain, sampai saya menginjak kaki di Jepang, saya tahu akan hidup di negara ini setidaknya selama satu tahun, tapi tidak tahu akan kuliah di mana.

Awal Kehidupan di Jepang

Awal kehidupan saya di Jepang merupakan masa eksplorasi yang penuh kenangan. Selain keharusan untuk menguasai bahasa baru, ini adalah saat pertama kali saya hidup seorang diri jauh dari keluarga jadi normal saja setiap kali saya berkomunikasi dengan telepon atau e-mail (ingat, belum ada whatsapp atau mobile messenger), ada saja nada khawatir dari Indonesia. Untungnya, tahun pertama saya berjalan relatif lancar dan tanpa masalah. Ya, saya perlu menghafal setidaknya 10 kanji baru setiap hari, perlu banyak belajar malam-malam untuk menghafal grammar dan menulis essay dalam bahasa Jepang, dan perlu bersaing dengan peserta program yang sama dari seantero dunia untuk bisa masuk ke universitas dengan predikat bagus, tapi bagi saya semua tantangan itu jauh lebih kecil dari hal-hal positif yang saya dapat. Saya bisa berkenalan dengan teman-teman baru dari negara yang biasanya cuma saya lihat di buku pelajaran geografi, bisa jalan-jalan ke berbagai pelosok Jepang, dan dana sangu bulanan yang saya terima lebih dari cukup untuk menutupi biaya hidup dan rekreasi (tentunya dengan standar hidup mahasiswa yang tidak berfoya-foya lho). Kuatnya komunitas mahasiswa Indonesia di Tokyo juga membantu saya untuk beradaptasi dengan kehidupan di sini.

Tokyo sendiri untuk saya adalah salah satu kota yang ramah untuk ditinggali kalau kita bisa berbahasa Jepang. Transportasi umum dan infrastrukturnya luar biasa bagus, bahan makanan relatif tidak mahal dibandingkan dengan pendapatan, banyak taman dan ruang hijau, jasa pengobatan/medis tersedia dengan cukup dan didukung oleh program asuransi pemerintah yang mancakup masyarakat awam, dan tingkat keamanan dan kebersihannya sangat terjaga (oke, tidak ada tempat yang 100% aman tapi menurut saya Tokyo dan Jepang menempati peringkat atas). Singkat kata, saya sangat menikmati kehidupan di Tokyo.

Masuk ke dunia kerja

Setelah menyelesaikan kuliah di Hitotsubashi University, saya mulai bekerja di divisi konsultansi manajemen dari salah satu kantor akuntan publik global Big 4. Alasan saya ingin menjadi konsultan itu simpel: saya belum mempunyai gambaran yang kuat mengenai hal yang ingin saya lakukan di masa depan dan berhubung tema pekerjaan konsultan (umumnya) berbeda berdasarkan proyek, saya berharap bisa mendapat banyak pengalaman yang tidak terlalu terikat di satu bidang. Lalu alasan saya memilih bukan perusahaan Jepang adalah probabilitas yang lebih tinggi bagi saya untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris saya dan kemungkinan bekerja di negara di luar Jepang (selain Indonesia).

8 tahun kemudian, saya merasa telah mengambil keputusan yang tepat dengan masuk di perusahaan sekarang. Sebagai konsultan manajemen, saya berkesempatan menjalani proyek dengan berbagai macam tema dari regulatory compliance, market research, system implementation, cost optimization, post-merger integration, dll. Saya juga merasakan bekerja langsung dengan staf mid-management dan C-suite (CEO, CFO, dan teman-temannya) dari berbagai macam perusahaan, sesuatu yang menurut saya jarang didapat oleh pegawai baru di perusahaan awam di Jepang. Terlebih lagi, perusahaan saya bersedia merelokasi saya ke New York untuk bekerja di kantor afiliasi di AS selama 2.5 tahun.

Pengalaman saya hidup di AS bisa dirangkum dalam essay terpisah, tapi singkat kata, it was really, really fun! Untuk saya yang sangat hobi travelling, kesempatan tinggal di AS adalah salah satu rezeki terbaik yang saya dapat sejak kedatangan saya ke Jepang. Selain kemudahan untuk melancong ke tempat-tempat yang susah (jauh) dijangkau dari Asia, biaya pelesir domestik atau mancanegara dari AS jauh lebih murah dibandingkan dengan Jepang. Sebagai bonus, saya jadi tahu seluk-beluk dunia poin dan frequent flyer yang sangat membantu mengurangi biaya jalan-jalan saya. Note: saya suka pesawat dan pekerjaan saya juga mendukung ‘hobi’ menabung poin/mileage ini.

Untuk kamu yang ingin ke Jepang

Kesempatan hidup di negara baru telah memberi saya banyak pengalaman dan energi yang sangat berharga, dan dapat mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan di negara asal (di konteks ini, saya jadi bisa lebih objektif dalam menilai kelebihan dan kekurangan Jakarta, Tokyo, dan New York). Mungkin ada di antara kita yang belum berani mencoba merantau karena membayangkan kesulitan yang mungkin terjadi, tapi bagi saya, kelebihan yang bisa kita dapat jauh melebihi potensi kesulitan/kekurangan tersebut. Bekal persiapan memang diperlukan, tapi lebih dari itu, janganlah takut mengambil kesempatan yang ada di depan kita. Life is too precious to be wasted. Semoga tulisan saya bisa sedikit menjadi masukan bagi pembaca sekalian.


Layanan study Mikata Japan