Kenapa memilih kuliah ke Jepang?

Ada banyak poin yang perlu dipertimbangkan saat memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dari kualitas pendidikan, kecocokan lingkungan budaya, hingga keamanan, baik calon siswa maupun orangtua yang akan melepas anaknya untuk bersekolah di luar negeri pasti ingin mengetahui dahulu segala aspek negara yang dituju.

Di Mikata Japan, kami percaya bahwa Jepang adalah salah satu tujuan studi yang terbaik di dunia, terutama untuk orang Indonesia! Ingin tahu kenapa? Berikut ini alasannya.

1. Kualitas pendidikan terbaik di Asia

  • Jepang menempati ranking 5 besar di dunia untuk kemampuan Matematika (#5) dan Sains (#2) siswa SMA (PISA average 2015) Sebagai perbandingan, Indonesia menempati peringkat 62 dari 72 negara
  • Memiliki jumlah pemenang Nobel Prize terbanyak untuk negara Asia
  • Tokyo menempati #7 QS Best Student Cities

2. Belajar bahasa Jepang tidak sesulit yang anda pikir

  • Setelah satu tahun belajar di sekolah bahasa di Jepang, siswa rata-rata dapat lulus JLPT (Japanese Language Proficiency Test) level-N2, hanya satu level di bawah maksimal (N1)
  • Pronunciation tidak sulit bagi orang Indonesia
  • Grammar relatif mudah karena kata-katanya tidak memiliki gender (masculine/feminine/neutral), seperti di banyak bahasa negara-negara Eropa
  • Walaupun banyak Chinese Character (Kanji) yang perlu dihafal, saat ini sudah banyak teknologi yang dapat mempermudah, seperti smartphone app dll
  • Banyak contents Jepang yang sudah sangat familiar bagi orang Indonesia, seperti anime, game dan komik, yang dapat dimanfaatkan untuk belajar bahasa Jepang.

3. Aman, teratur, dan bersih

  • Menurut Global Peace index, Jepang adalah negara teraman di Asia
  • Semua serba teratur dan budaya mengantri sangat dijunjung tinggi
  • Saat gempa besar dan Tsunami tahun 2011 pun tidak ada kerusuhan dan penjarahan layaknya di negara lain. Semua tetap aman dan teratur walaupun ditengah bencana dan ketidakpastian.
  • Jepang sangat bersih, jarang sekali ada yang membuang sampah sembarangan

4. Biaya berobat relatif murah, dan kualitas layanan medis sangat baik

  • Setiap penduduk Jepang, termasuk WNA, akan di cover oleh asuransi kesehatan, sehingga hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat
  • Berkat tingginya kualitas layanan medis, Jepang adalah negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia (rata-rata 83.3 tahun) Sebagai perbandingan, Indonesia ada di peringkat 137 (68 tahun)

5. Biaya studi tidak semahal negara maju lainnya

  • USA : rata-rata $30,000/tahun
  • Singapura : rata-rata $20,000/tahun
  • Jepang : rata-rata $5,000/tahun (negeri), $10,000/tahun (swasta)

6. Siswa dapat bekerja sambilan untuk menambah income

  • Pelajar asing dapat bekerja maksimal 28 jam satu minggu, selama tidak berdampak buruk terhadap studinya.
  • Gaji rata-rata kerja part time sekitar ¥1,000 untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya

7. Jepang dekat dengan Indonesia

  • Beda waktu hanya 2 jam, sehingga adaptasi setelah tiba dan komunikasi dengan keluarga di Indonesia jauh lebih mudah dibandingkan Eropa dan Amerika
  • Perjalanan dapat ditempuh hanya dengan waktu 7 jam. Seiring dengan ramainya wisatawan Indonesia ke Jepang, pilihan maskapai saat ini sangat banyak dan harga tiket pun terus turun
  • Iklim relatif bersahabat untuk negara 4 musim. Tokyo jarang menembus suhu minus di musim dingin, dan suhu musim panas tidak beda jauh dari Indonesia

8. Kesempatan berkarir di Jepang, Indonesia atau negara lainnya terbuka lebar

  • Banyak sekali perusahaan Jepang yang sudah memiliki cabang di Indonesia, maupun berencana berinvestasi di Indonesia
  • Di saat kemampuan berbahasa Inggris mulai menjadi hal yang normal, kemampuan berbahasa Jepang akan menjadi komoditi yang sangat dicari oleh berbagai perusahaan di Indonesia maupun luar negeri
  • Sebaliknya, kemampuan berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya sangat dihargai dan dicari oleh perusahaan-perusahaan di jepang

Itulah alasan-alasan kenapa kami percaya Jepang dapat menjadi pilihan terbaik untuk anda. Jika anda punya pertanyaan atau ingin tahu berbagai macam informasi lainnya mengenai studi di Jepang, anda dapat gunakan layanan praktis Ask the Gakusei kami untuk berdiskusi langsung kepada mahasiswa/i Indonesia yang sedang berkuliah di Jepang.

Tunggu apa lagi, ayo datang ke Jepang!

Layanan study Mikata Japan

 

Senpai`s Stories – Abhi

Sejak duduk di SMP, saya mempunyai keinginan kuat untuk bisa mengayomi pendidikan di luar negeri. Bukan karena saya merasa bahwa mutu institusi pendidikan Indonesia jauh di bawah negara luar, tetapi lebih karena rasa penasaran saya untuk mencicipi kehidupan di negeri orang tanpa tergantung kepada keluarga. Terlebih lagi, lumayan banyak keluarga besar saya yang pernah merasakan hidup merantau di Amerika Serikat atau Jepang dan mereka sering menyemangati saya agar dapat mengikuti jejak mereka.

Dari semua pilihan, sebenarnya Jepang bukan negara pilihan pertama saya sewaktu menimbang-nimbang lokasi kuliah. Memang banyak komik (manga) dan film kartun (anime) Jepang yang sudah masuk ke Indonesia sejak awal dekade 1990-an dan informasi tentang kehidupan di Jepang mudah didapat, tetapi saya berpikir bahwa berhubung saya akan hidup sendiri, lebih mudah untuk kuliah di negara yang berbahasa Inggris. Faktor finansial juga menjadi pertimbangan utama dan saya merasa lebih banyak informasi mengenai beasiswa untuk kuliah di AS, Singapura atau Australia dibandingan Jepang (untuk saya pribadi, mendapat beasiswa / tuition exemption adalah syarat mutlak bila ingin meneruskan kuliah di luar). Menariknya, justru faktor beasiswa inilah yang membuat saya memilih untuk datang ke negeri sakura setelah lulus SMA.

Saya pertama kali mendengar mengenai beasiswa Monbusho/MEXT dari iklan di koran saat menunggu hasil ujian akhir SMA (maklum saat itu smartphone belum keluar dan Google belum sepopuler sekarang). Hebatnya beasiswa ini adalah selain tiket pp Indonesia – Jepang dan biaya kuliah ditanggung 100%, pemerintah Jepang juga memberi sangu untuk biaya hidup bulanan yang cukup. Alhamdulillah, setelah mengikuti seleksi di Jakarta, saya diterima sebagai kandidat mahasiswa S1. ‘Kandidat’ dalam arti saya masih harus mengikuti seleksi masuk universitas Jepang setelah kursus bahasa di Tokyo. Dengan kata lain, sampai saya menginjak kaki di Jepang, saya tahu akan hidup di negara ini setidaknya selama satu tahun, tapi tidak tahu akan kuliah di mana.

Awal kehidupan saya di Jepang merupakan masa eksplorasi yang penuh kenangan. Selain keharusan untuk menguasai bahasa baru, ini adalah saat pertama kali saya hidup seorang diri jauh dari keluarga jadi normal saja setiap kali saya berkomunikasi dengan telepon atau e-mail (ingat, belum ada whatsapp atau mobile messenger), ada saja nada khawatir dari Indonesia. Untungnya, tahun pertama saya berjalan relatif lancar dan tanpa masalah. Ya, saya perlu menghafal setidaknya 10 kanji baru setiap hari, perlu banyak belajar malam-malam untuk menghafal grammar dan menulis essay dalam bahasa Jepang, dan perlu bersaing dengan peserta program yang sama dari seantero dunia untuk bisa masuk ke universitas dengan predikat bagus, tapi bagi saya semua tantangan itu jauh lebih kecil dari hal-hal positif yang saya dapat. Saya bisa berkenalan dengan teman-teman baru dari negara yang biasanya cuma saya lihat di buku pelajaran geografi, bisa jalan-jalan ke berbagai pelosok Jepang, dan dana sangu bulanan yang saya terima lebih dari cukup untuk menutupi biaya hidup dan rekreasi (tentunya dengan standar hidup mahasiswa yang tidak berfoya-foya lho). Kuatnya komunitas mahasiswa Indonesia di Tokyo juga membantu saya untuk beradaptasi dengan kehidupan di sini.

Tokyo sendiri untuk saya adalah salah satu kota yang ramah untuk ditinggali kalau kita bisa berbahasa Jepang. Transportasi umum dan infrastrukturnya luar biasa bagus, bahan makanan relatif tidak mahal dibandingkan dengan pendapatan, banyak taman dan ruang hijau, jasa pengobatan/medis tersedia dengan cukup dan didukung oleh program asuransi pemerintah yang mancakup masyarakat awam, dan tingkat keamanan dan kebersihannya sangat terjaga (oke, tidak ada tempat yang 100% aman tapi menurut saya Tokyo dan Jepang menempati peringkat atas). Singkat kata, saya sangat menikmati kehidupan di Tokyo.

Setelah menyelesaikan kuliah, saya mulai bekerja di divisi konsultansi manajemen dari salah satu kantor akuntan publik global Big 4. Alasan saya ingin menjadi konsultan itu simpel: saya belum mempunyai gambaran yang kuat mengenai hal yang ingin saya lakukan di masa depan dan berhubung tema pekerjaan konsultan (umumnya) berbeda berdasarkan proyek, saya berharap bisa mendapat banyak pengalaman yang tidak terlalu terikat di satu bidang. Lalu alasan saya memilih bukan perusahaan Jepang adalah probabilitas yang lebih tinggi bagi saya untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris saya dan kemungkinan bekerja di negara di luar Jepang (selain Indonesia).

8 tahun kemudian, saya merasa telah mengambil keputusan yang tepat dengan masuk di perusahaan sekarang. Sebagai konsultan manajemen, saya berkesempatan menjalani proyek dengan berbagai macam tema dari regulatory compliance, market research, system implementation, cost optimization, post-merger integration, dll. Saya juga merasakan bekerja langsung dengan staf mid-management dan C-suite (CEO, CFO, dan teman-temannya) dari berbagai macam perusahaan, sesuatu yang menurut saya jarang didapat oleh pegawai baru di perusahaan awam di Jepang. Terlebih lagi, perusahaan saya bersedia merelokasi saya ke New York untuk bekerja di kantor afiliasi di AS selama 2.5 tahun.

Pengalaman saya hidup di AS bisa dirangkum dalam essay terpisah, tapi singkat kata, it was really, really fun! Untuk saya yang sangat hobi travelling, kesempatan tinggal di AS adalah salah satu rezeki terbaik yang saya dapat sejak kedatangan saya ke Jepang. Selain kemudahan untuk melancong ke tempat-tempat yang susah (jauh) dijangkau dari Asia, biaya pelesir domestik atau mancanegara dari AS jauh lebih murah dibandingkan dengan Jepang. Sebagai bonus, saya jadi tahu seluk-beluk dunia poin dan frequent flyer yang sangat membantu mengurangi biaya jalan-jalan saya. Note: saya suka pesawat dan pekerjaan saya juga mendukung ‘hobi’ menabung poin/mileage ini.

Kesempatan hidup di negara baru telah memberi saya banyak pengalaman dan energi yang sangat berharga, dan dapat mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan di negara asal (di konteks ini, saya jadi bisa lebih objektif dalam menilai kelebihan dan kekurangan Jakarta, Tokyo, dan New York). Mungkin ada di antara kita yang belum berani mencoba merantau karena membayangkan kesulitan yang mungkin terjadi, tapi bagi saya, kelebihan yang bisa kita dapat jauh melebihi potensi kesulitan/kekurangan tersebut. Bekal persiapan memang diperlukan, tapi lebih dari itu, janganlah takut mengambil kesempatan yang ada di depan kita. Life is too precious to be wasted. Semoga tulisan saya bisa sedikit menjadi masukan bagi pembaca sekalian.

 

Senpai’s Stories – Anne

Sejak SD saya mempunyai ketertarikan dengan budaya Asia Timur. Saya mengoleksi barang barang tradisional dari China dan Jepang. Mulai dari kotak perhiasan sampai bungkus permen. Menurut saya tulisan kanji itu unik dan warna warna pilihan yang khas sangat menarik bagi saya pada saat itu.

Saat SMP, saya berkesempatan exchange dengan murid JJS (Jakarta Japanese School) di Bintaro. Pada saat itu saya berinteraksi dengan anak anak Jepang seumuran saya. Di kelas di JJS saya ingat saya terkagum kagum dengan pelajaran geografi, matematika, dan olah raga mereka. Sama sekali berbeda dengan apa yang saya pelajari di sekolah saya saat itu. Teman teman Jepang saya di JJS juga sangat friendly. Hal itu membuat saya ingin belajar di Jepang.

Pada saat SMA, sekolah saya (SMA negeri 8, Jakarta) kedatangan representative staff dari Ritsumeikan Asia Pacific University (APU). Mereka meng advertise kan beasiswa yang tersedia untuk belajar di APU. Saya ingat betapa excited nya saya untuk belajar di APU. Membayangkan tinggal di dormitory dengan mahasiswa dari 80 negara di negara yang saya kagumi! Nampaknya seperti mimpi! Persyaratan utama masuk APU (selain nilai raport dan TOEFL score yang baik) adalah essay. Berhubung English Essay writing adalah salah satu passion saya saat itu, dengan semangat saya mendaftar ke APU. Bahagia sekali saya saat mendengar bahwa hasil application saya adalah 100% tuittion fee reduction untuk belajar di APU untuk jenjang S1.

Tidak mudah meyakinkan orangtua bahwa saya akan mampu bertanggung jawab dan hidup mandiri di Jepang berbekal beasiswa. Segala strategi negosiasi saya lancarkan kepada orangtua saya termasuk membuat proposal resmi berisi estimasi pengeluaran dana dan rencana selama 4 tahun ke depan. Saya buat beberapa estimasi dengan scenario berbeda yaitu diantaranya apabila saya kuliah di universitas negri dan swasta di Indonesia.

Setelah negosiasi panjang penuh air mata (haha) akhirnya saya berangkat satu semester kemudian (keberangkatan di postpone karena ada masalah finansial keluarga). Bahagia nya saya saat menginjakkan kaki di Fukuoka international airport. Saat itu musim semi tahun 2004.

Fast forward 4 tahun kemudian, saya mengantongi beberapa scholarships tambahan dari hasil prestasi akademis saya. Diantaranya adalah: Honors Scholarship, Suzaki Foundation Scholarship, Oita Prefectural Scholarship. Begitu bangga nya orangtua saya dengan pencapaian saya di APU, adik sayapun didukung untuk belajar di APU. Alhamdulilah dia juga mendapatkan 100% tuittion fee reduction.

Setelah selesai S1, saya melanjutkan ke program S2 dual degree, joint universities (Japan-Germany) kerjasama APU dan Trier University of Applied Sciences. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, saya mendapatkan beasiswa MEXT (domestic recruitment) untuk mendanai program ini.

Jerman memiliki budaya yang berbeda dengan Jepang. Keduanya memiliki keunikan tersendiri. Kalau di Jepang saya belajar banyak tentang team work dan harmony, di Jerman saya belajar berpikir kritis dan taktis. Benar benar pengalaman hidup yang berharga bagi saya. Saya bersyukur mendapatkan kesempatan belajar di kedua negara hebat ini.

Saat saya hampir selesai S2, saya dihubungi oleh pihak Jepang. Saya ditawarkan apakah berminat untuk melanjutkan S3 di Jepang dengan perpanjangan beasiswa MEXT. Pada awalnya saya ingin bekerja terlebih dahulu untuk mendapatkan pengalaman kerja, akan tetapi salah satu syarat perpanjangan ini adalah tidak boleh ada jeda waktu antara S2 dan S3. Akhirnya setelah menyelesaikan internship di Bosch GmbH. saya melamar ke Waseda Graduate School of Environment and Energy Engineering di Tokyo.

Selama S3, saya berkesempatan internship di organisasi ternama seperti United Nations University, Asian Development Bank, dan Institute for Global Environmental Strategies. Dari internship internship tersebut, saya menelurkan beberapa artikel di international journal ternama dan salah satunya mendapatkan penghargaan Hutchison medal dari The institution of chemical engineers (sebagai an important contribution to the literature that will stimulate further debate within the chemical engineering community) .

Setelah S3 yang cukup singkat karena persyaratan sudah terpenuhi (2,5 thn) saya melamar kerja di Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech). Bermula sebagai Assistant Professor pada tahun 2013 disana, saya mengakhiri masa dinas saya sebagai Lecturer pada tahun 2017.

Melihat kebelakang, perjalanan saya rasanya sangat dipermudah oleh yang maha kuasa. Jujur saya merasa memiliki kemampuan yang biasa biasa saja. Namun saya memiliki mimpi, dedikasi, dan presistensi yang tinggi. Saya juga percaya personality yang baik sangat berperan penting dalam berfungsi di society di Jepang. Banyak sekali anak Indonesia yang saya yakin jauh lebih hebat dari saya dan memiliki potensi yang cemerlang. Bila ada kemauan, disitu ada jalan. Mudah mudahan tulisan saya ini bisa menginspirasi siapapun yang membacanya dan memiliki mimpi belajar dan berkarya di Jepang.